Berita dari Menaker

Erman Soeparno: SDM Tak Berkualitas Bisa Jadi Sampah

Erman Suparno (GATRA/Edward Luhukay)
Kebanyakan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri hanyalah pekerja kasar: buruh bangunan, pembantu rumah tangga, atau sejenisnya. Mereka seringkali mendapat perlakuan tak manusiawi dari majikan. Kasus pelecehan seksual serta penyiksaan fisik dan psikis sering menimpa mereka. Kondisi itu tak lepas dari rendahnya kualitas TKI di luar negeri.

Karena itu, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi terus berupaya meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia. “Dengan begitu, tenaga kerja yang dikirim adalah tenaga terdidik dan profesional, bukan kelas pembantu lagi,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Erman Soeparno, ketika bertandang ke kantor Gatra, Selasa pekan lalu. Berikut petikan perbincangan Gatra dengan Erman Soeparno.

Sekarang ini, kebanyakan TKI yang dikirim ke luar negeri hanyalah pekerja kasar. Kapan kita mengirim tenaga kerja profesional?
Memang, pada saat ini jumlah TKI terdidik atau profesional sangat terbatas. Namun, secara perlahan, jumlahnya akan terus ditingkatkan. Pemerintah akan mengurangi pengiriman TKI informal. Dua tahun lalu, dari 6 juta TKI kita di luar negeri, sekitar 75% masih bekerja di sektor informal dan sisanya tenaga kerja yang memiliki skill. Nah, rumus itu sedang kami balik agar 75% yang formal dan 25 informal. Upaya mengubah itu dilakukan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan ke arah profesionalisme.

Pemerintah kembali mengaktifkan balai latihan kerja (BLK), yang sebelumnya sempat terbengkalai, dan menjalin kerja sama dengan negara sahabat, seperti Jepang, dalam menyediakan tempat untuk magang kerja. Dengan magang ini, diharapkan terjadi transfer of knowledge dan teknologi serta berkurangnya biaya bagi calon TKI untuk magang karena dibiayai sepenuhnya oleh Jepang. Pada saat ini, sedikitnya ada 53.000 tenaga kerja Indonesia yang ikut magang di perusahaan-perusahaan di Jepang.

Apa yang dilakukan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) untuk meningkatkan kualitas pekerja kita?
Dalam Undang-Undang Pendidikan dinyatakan, struktur pendidikan itu terdiri dari pendidikan formal, nonformal, dan informal. Nah, domain pendidikan nonformal itu ada di Depnakertrans dan departemen lain. BLK-BLK milik Depnakertrans itu kan informal. Hanya saja, sebelum saya masuk, kondisi 98% BLK di seluruh Indonesia nyaris ambruk. Sebagian peralatan sudah kedaluwarsa. Instrukturnya sudah pada tua. Begitu pula bangunannya, kebanyakan tidak terawat lagi.

Karena itu, saya merevitalisasi BLK yang ada di seluruh Indonesia, dan saya kembalikan fungsinya. Pada saat ini, 65% sudah direhabilitasi dan tinggal mengisi peralatannya. Bahkan saya membuat program 3 in 1, yaitu pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja. Jadi, kalau mau cari kerja, tinggal datang, lalu mau bekerja sebagai apa, mau dilatih apa, nanti disediakan pelatihan dengan sistem berstandar dan kami beri sertifikat.

Lantas, apa kendalanya?
Menyangkut instrukturnya. Seringkali, selesai training dan kembali ke daerah, instruktur itu bukannya mengaplikasikan ilmunya, malah dimutasi menjadi kepala desa atau camat oleh pemda setempat. Saya akhirnya minta bupati-bupati tidak mengambil instruktur terlatih sebagai pejabat di bidang lain. Kami sudah men-training sejumlah instruktur di Jakarta dan sudah ada komitmen dari pemerintah daerah masing-masing untuk tidak menjadikan mereka pegawai di bagian lain. Selain itu, saya juga minta agar sekolah umum dikurangi dan sekolah kejuruan ditambah supaya menghasilkan tenaga kerja siap pakai.

Bagaimana dengan perlindungan hukum bagi TKI?
Pemerintah menjalin kerja sama dengan para pengacara lokal di tempat TKI berada. Pada saat ini, ancaman hukuman berat pada TKI, seperti hukuman mati dan hukuman seumur hidup, sudah teratasi. Dari 96 kasus TKI yang terancam hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup, semuanya sudah selesai. Jikapun masih ada, itu adalah warga negara Indonesia yang terancam akibat menjadi pengedar narkoba.

Saya pernah memprotes langsung ke Perdana Menteri Malaysia. Saya katakan bahwa kita menghormati hukum Malaysia, tapi pengadilan Malaysia kerap tidak adil dengan memberlakukan hukuman cambuk bagi TKI yang salah. Tapi itu tidak berlaku jika majikan Malaysia yang berbuat salah. Akhirnya kini, di wilayah Kinabalu, pengadilan memutuskan hukuman cambuk bagi majikan juga.

Yang repot di Timur Tengah. Sebagian besar TKI ilegal yang datang ke Arab Saudi menjadikan umrah dan haji sebagai alibi mereka. Padahal, situasi ini bisa berubah buruk. Banyak di antara TKI ilegal ini yang dibawa agen tenaga kerja asing di Arab Saudi, kemudian ditempatkan di negara-negara bukan penempatan TKI, seperti Irak. Tapi pekerja yang bersangkutan tidak tahu. Mereka merasa masih di Arab Saudi karena melihat tulisan Arab. Setelah mereka mendengar suara tembakan dan bom, baru kocar-kacir.

Di sejumlah sektor, tenaga kerja asing mulai merambah. Bagaimana pengaturannya?
Ya, kalau kita bicara globalisasi, masuknya tenaga kerja asing tidak bisa kita halangi. Aturannya sudah ada. Kehadiran mereka tetap dibatasi, tidak sembarangan. Tapi ini (masuknya tenaga kerja asing) menjadi bukti bahwa sumber daya manusia (SDM) kita belum siap. Kondisi ini terkait dengan belum jelasnya konsep human development.

Konsep yang ada belum holistik komprehensif. Padahal, kalau bicara human development, kita bicara tiga sistem, yaitu sistem kependudukan, sistem pendidikan, dan sistem ketenagakerjaan. Ironisnya, negara kita masih menomorduakan Kementerian Tenaga Kerja. Padahal, bila saya bicara dengan mitra kerja dari luar negeri, ketenagakerjaan itu termasuk garda terdepan.

Dalam membangun, menurut saya, dibutuhkan dua variabel, yaitu sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kalau kita punya SDM yang andal, sampah pun bisa kita olah. Meskipun sumber daya alam kita banyak, kalau SDM-nya tak berkualitas, maka manusianya itu yang menjadi sampah.

Lalu, apa yang harus diperbaiki?
Banyak hal. Kita lihat kebijakan subsidi pendidikan, misalnya. Seharusnya subsidi itu tidak hanya bagi siswa SD hingga SMU. Lulusan SMU itu masih terbatas sebagai tenaga operator, bukan decision maker. Makanya, subsidi juga harus diberikan kepada mahasiswa. Survei World Bank pun menyebutkan, kualitas SDM kita berada di peringkat ke-159 dari 160 negara yang disurvei. Sedangkan produktivitasnya berada di peringkat ke-134 dari 170 negara.

Kini sejumlah perusahaan mempekerjakan tenaga outsourcing, sehingga banyak pekerja yang merasa dirugikan. Bagaimana aturan soal tenaga kerja outsourcing ini?
Bicara outsourcing berarti bicara globalisasi. Sebab outsourcing itu globalisasi itu sendiri. Dalam bisnis global paradoks, isinya outsourcing. Selama ini, yang terjadi adalah pelanggaran terhadap prinsip outsourcing itu sendiri. Banyak perusahaan outsourcing ilegal dan tidak berbadan hukum. Dan ini yang harus ditata. Sesuai dengan aturan, perusahaan outsourcing itu harus berbadan hukum.

Dengan demikian, para karyawannya mendapat perlindungan hukum dan memiliki hak normatif yang sama seperti karyawan perusahaan di mana pun. Jadi, jika dilihat secara positif, outsourcing itu membuka lapangan kerja baru. Nah, yang diprotes itu yang ilegal-ilegal itu. Hanya saja, memang ada kelemahan pada aturan perundangan-undangannya, karena tidak memberi sanksi bagi mereka yang melanggar. Tapi sekarang kami melakukan pengawasan dan pengetatan terhadap outsourcing.

Kalau begitu, Undang-Undang Ketenagakerjaan perlu direvisi?
Hasil survei independen lima universitas memang merekomendasikan untuk merevisi Undang-Undang Ketenagakerjaan. Saya tak bermaksud membela kepentingan pengusaha. Tapi harus seimbanglah. Undang-undang yang ada sebenarnya sangat pro-pekerja. Ada aturan tentang serikat pekerja, yakni setiap 10 orang pekerja bisa membuat serikat pekerja. Memang konvensi ILO menyebutkan, pekerja tidak boleh dilarang untuk berserikat. Tapi itu bikin repot pengusaha. Dalam satu perusahaan bisa ada 30 serikat pekerja. Bisa-bisa pekerjaannya menghadapi serikat pekerja saja.

[Nasional, Gatra Nomor 46 Beredar Kamis, 25 September 2008]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: