Bisnis outsourcing di Jatim cerah


Bisnis outsourcing di Jatim cerah

Sumber :Bisnis Indonesia

Perusahaan pengerah tenaga outsourcing di Jawa Timur berpeluang meningkatkan volume penyediaan pekerja kontrak, menyusul kian tingginya penggunaan alih daya di kalangan perusahaan menengah besar yang kini sedikitnya 50%.

Namun, perusahaan pengguna di Jatim cukup selektif memilih pengerah outsourcing yakni yang harus mengikutsertakan pekerja kontrak itu dalam program jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek), karena tidak ingin mengalami masalah dengan pekerja.

Ketua Forum Komunikasi Personalia Jawa Timur Emil Susanto mengakui kalangan perusahaan di Jatim cenderung menggunakan tenaga outsourcing, karena aturan pemerintah, melalui UU No. 23/2003, membolehkan perekrutan pekerja sistem kontrak.

Menurut dia, berdasarkan UU itu pula, perusahaan di Jatim umumnya memanfaatkan tenaga outsourcing yang tidak terkait langsung dengan bisnis inti. Tenaga yang direkrut, semisal, satpam atau sopir, sedangkan di bagian produksi bukan pekerja kontrak.

“Penggunaan tenaga outsourcing di kalangan perusahaan skala menengah besar di Jatim saat sekarang sedikitnya 50%, dan pada tahun-tahun mendatang bisa meningkat lagi. Maka peluang perusahaan pengerah tenaga outsourcing semakin besar,” ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Emil menambahkan perusahaan pengguna tenaga outsourcing cukup selektif memilih perusahaan pengerah tenaga outsourcing. Perusahaan pengerah tenaga outsourcing yang dipilih adalah yang memenuhi hak-hak pekerja, termasuk diikutkan dalam program jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek).

“Perusahaan pengguna tenaga outsourcing tidak ingin menghadapi masalah dengan pekerja/buruh maupun dengan instansi pemerintah/Dinas Tenaga Kerja, maka hak-hak pekerja harus dipenuhi,” paparnya.

Punya keahlian

Kepala PT Jamsostek (Persero) Cabang Surabaya Darmo, Miaryono, mengakui perusahaan di Surabaya cenderung memanfaatkan tenaga outsourcing, dengan kriteria memiliki keahlian tertentu seperti sopir dan satpam dan harus dilindungi dengan Jamsostek. Hal itu disebabkan oleh perusahaan pengguna tenaga outsourcing tidak mau menanggung risiko manakala pekerja kontrak itu menghadapi kecelakaan kerja.

“Sekitar 30% dari total pekerja peserta program Jamsostek yang kami himpun merupakan tenaga outsourcing, keikutsertaannya dalam program ini dibayar oleh perusahaan pengerah tenaga outsourcing,” tuturnya kepada Bisnis, kemarin.

Sebelumnya, Direktur Program Eksekutif Magister Manager Bina Nusantara Jakarta, Irham A Dilmy, mengatakan tren penggunaan tenaga outsourcing ke depan akan menguat, dengan alasan mengurangi beban perusahaan.

“Penyebab tingginya penggunaan tenaga outsourcing dipicu tingginya upah pesangon yang harus dibayar perusahaan jika melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sesuai UU No. 23/2003 tentang Ketenagakerjaan,” paparnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: