They Are Not Only Hungry, But Soon Will Be Angry Too

Jumat, 02-05-2008 09:06:06
oleh: Noer-noer Kanal: Opini

Meskipun hanya dari depan layar komputer sebuah warnet di kawasan tersibuk Hong Kong (Cause Way Bay) wajah-wajah mereka buruh Indonesia yang turun ke jalan Imam Bonjol, Jakarta, terlihat hampir sama dengan mereka wajah buruh di negara-negara Asia lain. Mereka adalah kaum buruh yang merayakan May Day dengan turun ke jalan-jalan meneriakkan berbagai protes menuntut perbaikan.

Mereka yang berada di jalan Imam Bonjol, Jakarta-Indonesia, Manila-Filipina, atau Bangkok-Thailand meneriakkan tuntutan yang hampir senada: kenaikan upah buruh, turunnya harga bahan makanan pokok, perbaikan di sektor pertanian dan khusus untuk yang di Indonesia tuntutan yang paling utama adalah agar harga BBM diturunkan.
Dari slogan, teriakkan atau bahkan aksi demonstrator di tengah jalan kita bisa menyimak kalau ternyata mereka tidak hanya hungry but soon will be angry too. Setidaknya jika di masa depan mereka benar-benar hanya mampu membeli sedikit makanan karena harga yang makin melambung.
Dari ke tiga negara tersebut di atas masyarakat golongan menengah ke bawah dan kaum buruh seperti merekalah yang menjadi korban jika angka inflasi makin meninggi seperti yang mereka takutkan. Harga makanan makin mencekik sementara upah mereka tetap diam di tempat tak kunjung bertambah, bagaimana mereka akan mampu menjangkaunya. Mungkin untuk mencapai rasa kenyang bukan lagi hal yang murah.
Sementara itu mereka yang berada di Indonesia merasa kurang senang dengan makin banyaknya perusahaan yang memperkerjakan buruh hanya dengan sistem kontrak,mereka khawatir hak-hak mereka akan terinjak. Sedang mereka yang di Thailand menuntut upah minimum buruh dinaikkan menjadi 233 bath (kurang lebih 50 ribu) per hari. Menurut data dari media masa banyak di antara mereka yang bekerja di sekitar Bangkok hanya memperoleh upah kurang dari 200 bath per harinya.
Sementara itu para buruh di Manila selain meneriakkan tuntutan yang hampir serupa juga sempat memprotes Presiden Gloria Aroyo yang mereka anggap kurang mampu menghadirkan solusi guna meringankan beban mereka kaum buruh. Sebagai contoh ketidakseriusan pemerintahan beliau dalam usaha memenuhi tuntutan para buruh agar upah minimum yang ditetapkan dinaikan.
Mungkin bahasa mereka dari para buruh yang turun ke jalanan berdemonstrasi di ketiga negara tadi jauh berbeda. Tapi pada prinsipnya apa yang mereka inginkan adalah sama. Sebuah perbaikan agar direalisasikan untuk mereka. Tapi entah sampai kapan tuntutan mereka tak akan didengarkan oleh mereka who ever this rallies may concern.
Sumber: The Strait Times Singapore

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: