Mayday antara Tuntutan dan Kewajiban

Jumat, 02-05-2008 08:11:22
oleh: Fajar Agustanto
Hari kemarin (1 Mei), peringatan hari buruh dilaksanakan. Tak kurang para buruh pun dengan semangat menuntut beberapa kewajiban yang harus diberikan oleh pabrik kepada buruh. Mulai dari berbagai aksi, sampai demonstrasi besar-besaran dilaksanakan di hari ini. Ribuan buruh bersiap untuk memperjuangkan tuntutan yang sudah menjadi hak para buruh. Memang sangat disayangkan sekali, para buruh yang notabenenya termasuk salah satu penghasil devisa, harus dimarginalkan dengan berbagai kezhaliman oleh beberapa perusahaan.
Memang sangat menyakitkan sekali, ketika melihat saudara-saudara kita yang bekerja di sebuah perusahaan (pabrik) harus mendapatkan perlakuan yang terlihat tidak manusiawi. Mulai dari sistem outsourcing yang tidak sesuau dengan UU, sampai dengan kerja kontrak. Tak luput juga UMR pun menjadi problem yang tidak dapat kita pungkiri.Kompleks sekali permasalahannya. Di lain pihak, perusahaan yang memperkerjakan buruh pun kadang tidak memberikan hak-hak yang sesuai untuk didapatkan para buruh. Walaupun memang beberapa perusahaan ada yang telah memenuhi semua hak-hak para buruh, tapi perusahaan seperti itu sangat sedikit jumlahnya. Nah realitas seperti ini sangat dominan sekali di Indonesia!Tetapi di lain pihak juga, ada beberapa karyawan atau buruh yang asal-asalan dalam pekerjaannya. Hingga terlihat sekali, bahwa profesionalitas seorang buruhpun dituntut disitu! Dimanapun pekerjaannya, kita semua adalah buruh. Entah buruh pabrik, buruh pemerintah, dll.
Maka di semua pekerjaaan itu kita harus memberikan yang terbaik bagi seseorang yang telah memperkerjakan kita. Profesionalitas dalam pekerjaan itu dituntut di situ! Antara buruh dan pengusaha. Seharusnya sama-sama mempunyai pemikiran tentang timbal-balik. Sama-sama mempunyai pemikiran saling membutuhkan. Sehingga tidak ada satupun yang merasa lebih baik. Pengusaha tanpa buruh pun, usahanya pasti sangat sulit untuk berjalan. Sama halnya, buruh tanpa pengusaha berarti pekerjaan tanpa bayaran. Jadi kedua-duanya harus mempunyai keprofesionalan yang berada pada masing-masing tempatnya. Pengusaha mengatur usahanya, buruh bekerja sesuai dengan pekerjaannya. Pengusaha memberikan hak-hak yang sesuai dengan apa yang harus didapatkan buruh, dan buruhpun memberikan profesionalitas dalam pekerjaannya.Jadi di antara satu sisi tidak saling berat sebelah.
Jika ada yang melanggar maka harus ditindak dengan tegas, dan tidak ada toleransi. Jika buruh bisa ditindak tegas, maka pengusaha pun yang melanggar harus ditindak tegas. Prinsip keadilan harus ditegakkan, karena dengan memberikan keadilan, maka kesejahteraan itu akan bisa terwujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: