Pekerjaan Waktu Tertentu dan ”Outsourcing”

outsourcing-view.jpg

Moderator mengajak Anda untuk memberikan Opini terhadap topik-topik terhangat seputar Outsourcing dengan menulis komentar Anda dihalaman ini.

Mari membuka mata dengan saling bertukar pendapat di Forum ini dengan bebas,sopan,etis dan bertanggaung jawab.Moderator berhak mengedit atau menghapus pesan yang tidak layak tampil.

 Regards,

Moderator Outsourcing Online. 

———————————————————————————————————————–

Artikel Yang dikomentari : 

Pekerjaan Waktu Tertentu dan ”Outsourcing”

Sumber : Sinar Harapan Online 

Oleh
Harry Ganda Asi

Penulis adalah aktivis perburuhan.

Kondisi perburuhan kita betul-betul sangat rentan, penuh dengan ketidakpastian dan kapan saja dapat terancam PHK. Keputusan untuk melakukan PHK itu bisa berlangsung akibat perusahaan tidak menerima order lagi dari pembelinya di luar negeri, atau perusahaan mengalami mis-management, sehingga terjadi kebangkrutan baik yang disengaja maupun yang terpaksa.
PHK massal bakal terus terjadi seiringan dengan kondisi politik kita dan iklim bisnis yang tidak mendukung. Banyak investor asing yang siap-siap hengkang. Persoalannya juga terletak pada kualitas buruh kita serta regulasi yang mengekang mereka.
Dua tuntutan paling kuat para buruh dalam memperingati Hari Buruh Internasional, 1 Mei 2007 lalu, yakni pertama, hapuskan sistem kontrak dan kedua: tolak outsourcing. Dua tuntutan buruh ini tampaknya sangat sulit dilakukan karena sistem liberisasi ekonomi yang kita anut.
Terhadap tuntutan buruh Indonesia mengenai penghapusan sistem kontrak, memang sesuatu permintaan yang sangat sulit, dilema antara keinginan buruh dan pengusaha. Dalam praktiknya, pekerjaan kontrak banyak menghadapi pelanggaran-pelanggaran hukum. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, Pasal 59, yang mengatur soal Pekerjaan Waktu Tertentu (PWT), jelas secara eksplisit menyebutkan pekerjaan yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun.
Selanjutnya disebutkan dalam Pasal 59 Ayat 1 Perjanjian kerja untuk waktu tertentu anya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu: a. Pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya; b. Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun; c. Pekerjaan yang bersifat musiman; atau d. Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.
Pro-kontra “Outsourcing”
Meskipun secara tegas dinyatakan bahwa PWT paling lama 3 tahun, namun pada praktiknya banyak kejanggalan yang terjadi, bahkan ada buruh yang dikontrak lebih dari 12 tahun. Buruh tersebut selalu di-PHK per 3 tahun, dan kemudian direkrut kembali.
Tapi, buruh terpaksa pasrah ketimbang tidak memiliki pekerjaan. Para pengusaha berkilah kepada Pasal 59 Ayat 3 Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dapat diperpanjang atau diperbaharui; dan Ayat 4 mengatakan Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.
UU jelas mengatakan bahwa PWT hanya untuk pekerjaan yang jangka pendek dan bersifat tidak tetap. Pasal 59 Ayat 2 mengatakan Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap. Jangan kira bahwa perilaku ini dilakukan oleh perusahaan lokal saja, tetapi juga oleh perusahaan multinasional terkenal pembuat pakaian jadi.
Dalam konteks outsourcing terdapat dua pendapat yang pro-kontra baik bagi aktivis perburuhan dan akademisi. Ada yang menolak sebab dianggap sebagai eksploitasi manusia, sementara yang setuju menganggapnya sebagai bagian dari tuntutan modernisasi dunia usaha. Mereka berkilah, tidak mungkin ada perusahaan yang mau mempekerjakan pramugari yang sudah berusia tua.
Seharusnya, perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terlebih dahulu menolak melakukan outsourcing. Banyak perusahaan BUMN justru menjadi perusahaan yang jago dalam menggunakan tenaga outsourcing, khususnya di jalan tol Jabotabek.
Sementara itu, yang juga menyedihkan adalah kualitas perburuhan kita, KADIN pernah menyimpulkan tipikal buruh kita disebutkan serba “low”, yakni “low productivity”; “low education”; “low motivation”; “low skill”, “low discipline”, dan “low pay”. Kalau benar saja kondisi buruh kita serba “low”, bagaimana mungkin buruh kita memiliki daya saing?
Penelitian Donald F. Roy (“Banana Time Job Satisfaction and Informal Interaction”) menyimpulkan bahwa meskipun sumpeknya pabrik, kualitas, dan produktivitas buruhnya dapat dipacu dengan komunikasi timbal balik antara buruh dan pemilik pabrik. Komunikasi informal harus selalu diciptakan. Bisnis garmen, misalnya, rata-rata padat karya, menggunakan ratusan bahkan ribuan buruh. Bayangkan bila sektor ini goyah, PHK akan sangat besar.
“Fixed-cost” di Indonesia Tinggi
Kita pun tahu buruh punya masalah, investor pun punya masalah. Belakangan ini, komunikasi konstruktif dan timbal-balik sudah mulai luntur dan jarang digunakan. Bila ada konflik antara buruh dan majikan, penggunaan otot langsung dilakukan. Belakangan berapa investor asing telah mengambil keputusan untuk hengkang dari Indonesia dan merelokasikan pabriknya ke luar negeri karena capek menghadapi demo-demo buruh, dan buntunya jalan dialog.
Seorang presiden direktur suatu perusahaan garmen asing mengeluh dengan sikap-sikap arogan serikat buruh. Bila pabrik harus mengejar target produksi yang memaksa buruh untuk overtime, namun manajer/supervisor harus meminta izin kepada ketua serikat buruh/pekerja, pahadal pabrik akan menghadapi ancaman “air-freight” bila terlambat jadwal penyelesaian produksinya. Artinya, biaya akan meningkat jauh lebih tinggi bila terjadi kelambatan produksi.
Dibandingkan secara global, kondisi kita sudah kalah. Menurut para investor, momok paling utama bagi mereka, yakni UMR. Menurut mereka, biarkanlah upah buruh ditentukan oleh mekanisme pasar. UMR itu suatu pembunuhan. Belakangan ini upah buruh kita menjadi sangat tidak kompetitif dibanding negara lain.
Upah buruh di Indonesia rata-rata US$ 70/bulan dan dapat naik menjadi US$ 100 bila ada lembur, sedangkan di China US$ 70 tanpa lembur, di Myanmar hanya US$ 18-20. Jadi, belum apa-apa fixed-cost di Indonesia sudah tinggi.
Marilah kita analisis, mengapa banyak perusahaan Korea TSK yang kabur. Ketika order sudah mulai tidak ada, menghadapi lebaran, perusahaan harus mengeluarkan 2 kali lipat (gaji dan THR), mereka memilih untuk kabur. Mengapa? Mesin-mesin bukan milik mereka tetapi leasing, tempat (pabrik) pun disewa. Karena itu daripada mengeluarkan uang yang besar, lebih baik kabur.
Sudah terlalu sering kita mendengar banyaknya pengusaha TSK yang kabur meninggalkan pabrik dan buruhnya. Untuk itulah, pemerintah harus melakukan pengawasan yang ketat kepada pengusaha-pengusaha TSK asing. Kasihan nasib buruh kita, harus ada solusi bersama untuk mensejahterakan dan memproteksi buruh kita.
TULIS KOMENTAR ANDA :

Responses

Saya Setuju bahwa Outsourcing dapat menjadi alternatif solusi untuk menggairahkan dunia investasi di Indonesia.

Mengingat total pencari kerja sudah tidak seimbang dengan lapangan pekerjaan yang ada.Namun harus dicari solusi yang nyaman untuk para pekerja kita yang berada dibawah kontrak Outsourcing.

Diperlukan alat hukum yang dapat memayungi para investor dan tentu saja dapat mengayomi status para karyawan yang berada dibawah kontrak Outsourcing.Alat hukum juga harus dapat memberikan kejelasan hukum kepada para praktisi Outsourcing secara detail.

Demikian komentar saya.Mungkin teman-teman ada yang mau menambahkan?

Aris-JKT

 

Saya tidak setuju dengan konsep Outsourcing di Indonesia.

Alat hukumnya masih lemah dan masih prematur untuk dapat dijalankan di negeri ini.Menurut Saya apa yang dilontarkan mas Aris masih hanya angan-angan saja.

Untuk menuntaskan : mana Yang CORE BISNIS dan bukan saja sudah makan waktu 4 tahun,mana pemerintah peduli ? yang jadi korban malah pencari kerja.

demikian komentar kami dari FI Indonesia,mohon maaf agak ” keras ” karena kekesalan kami terhadap pemerintah yang tidak cepat responnya.

Budi
FI Indonesia

 

jadi outsourcing employee bagi saya sama saja masuk ke mousetrap. dari luar terbayang hidup nyaman dgn gaji lumayan tapi nyatanya benar2 mengenaskan. setaon yg lalu dgn iming2 biaya hidup tercukupi saya menyanggupi jd outsourcing employee kumpeni outsourcing untuk ditempatkan di coal mining company di kaltim. wuah nyatanya tiap hari saya diperas habis2an. berangkat kerja jam 7 pulang jam 9 malem tidur jam 2 pagi lantaran kerjaan numpuk mana deadline tak manusiawi. belakangan saya pun tahu kumpeni outsource itu gila2 an menyunat gaji saya. gaji yg 10 juta per month cuma nyampe 2.5 juta:-(( kapok ah. buat yg lain pikir dulu lah, cari info sana sini drpd nyesel

 

Saya mulai meniti karir semenjak saya lulus dari salah satu PTS di Surabaya dengan melamar ke perusahaan Outsourcing.

Awalnya saya tertipu salah satu perusahaan Outsourcing di Patra Jasa dengan pemotongan gaji setelah saya diterima di perusahaan perbankan kartu kredit.Setelah merasa tidak nyaman saya keluar dari perusahaan tsb dan diterima di perusahaan asuransi dari eropa.
awalnya saya merasa curiga dan was was bahwa gaji saya akan dipotong seperti semula.Namun ternyata saya tidak dipotong gajinya.

Sekarang setelah 1,5 tahun bekerja dan menunjukkan kinerja yang bagus,perusahaan asuransi tsb mengangkat saya sebagai karyawan tetap.

Saya setuju bahwa harus dibuat perangkat hukum yang dapat mengawasi praktik Outsourcing tetap pada jalurnya.

Abdi ,Bekasi

 

outsourcing ok..ok..saja
sekarang tidak jamannya lagi pasif nunggu kondisi negeri ini MEMBERI SESUATU pada kita.
…KITA SENDIRI HARUS BANGKIT… gunakan kesempatan program outsourcing menjadi hal yg positif :
Kita harus bekerja dg target-target tertentu, sehingga kita dapat kreatif mengembangkan diri kita menjadi yg optimal, jangan loyo nunggu perbaikan nasib dari negeri ini.
Pola hidup masyarakat kita ini masih pengagum PEGAWAI NEGERI yg kerja enak pulang cepat. sehingga outsourcing di tolak… ini sudah nggak jaman lagi.. Menurut saya masa depan ada di tangan kita, pertama boleh outsourcing..kalau sudah pintar kita harus berani pasang harga. yaitu harga diri kita, siapa yg berani nggaji saya sesuai standart saya hayoo….
Jadi outsourcing menjadi hal yg positif bagi saya, karena saya menjadi bisa menghargai Waktu, Tenaga, dan Pikiran saya menjadi berkembang berkembang dan berkembang terus…OUTSOURCING THE BEST…

 

saya pikir yang sering terjadi adalah seorang pekerja diberikan pekerjaan yang tidak “pas” dengan kemampuannya..

contohnya teman saya seorang lulusan FISIPUI jurusan sekretari dengan IPK 3,3 malahan dipekerjakan di TV7 (waktu itu namanya) di bidang wardrobe oleh suatu outsourcing di jakarta selatan..

 

Iklan

One Response to Pekerjaan Waktu Tertentu dan ”Outsourcing”

  1. Leni Marlina berkata:

    Saya setuju dengan sistem kerja outsourcing, asal perusahaan tersebut melakukan pembayaran sesuai dengan regulasi pemerintah dan tidak melakukan pungutan liar kepada karyawannya. Minimal lewat outsourcing karyawan tersebut melewati proses seleksi yang lebih lama. Jika sudah OK karyawan tersebut silahkan dikontrak oleh perusahaan pengguna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: